David Reamer: Effect of Unethical Experiment on Client Resiliency

ANALISIS KASUS DAVID REIMER

(Yonathan Deantono-707102023)

Magister Psikologi Universitas Tarumanagara

Jakarta 2011

Abstrak

Masalah gender adalah sebuah masalah yang sangat sensitif di masyarakat. Gender tidak hanya melibatkan persoalan biologis, tetapi juga persoalan sosial. Ketika seorang psikolog ingin melakukan sebuah eksperimen tentang gender tanpa memperhatikan kesejahteraan pasien dan mengabaikan kode etik psikologi ternyata akibat yang ditimbulkan sangat fatal dan merugikan tidak hanya bagi klien tetapi juga bagi keluarganya. Di sisi lain, sebenarnya seorang psikolog dituntut untuk dapat membuat pasien bertahan menjalani kehidupan selama dan setelah proses terapi dilakukan.

Ketika yang terjadi adalah sebaliknya, klien justru semakin merasa terancam dan khawatir akan kelanjutan kehidupannya, maka hal yang mungkin telah terjadi adalah pelanggaran pasal-pasal dalam kode etik psikolog. Hal inilah yang terjadi pada kasus David Reimer yang secara tidak sadar digunakan sebagai bahan eksperimen dalam penelitian gender yang dilakukan oleh psikolognya Dr. John Money, tanpa sepengetahuan David dan kedua orang tuanya.

 

Abstract

Gender is a sensitive case in our society. Gender is not just biological conditions but also a matter of social differences. When a psychologist does an experiment without concern about his/her clients well-being and neglect the ethics the result is fatal not only for clients but also for his/her family. In other side, one of the psychologist responsibilities is assure and protect his/her clients’ well-being when therapy is ongoing and after the therapy session ended. In David Reimer’s case what happen is the opposite.

Reamer becomes a model of experiment by his psychologist Dr. John Money without permission from him and his family. The result is fatal. Many code of ethics violated by Dr. Money while he run his experiment on David Reimer. This violating ruin David’s world. He felt threatening and worried about his life and making him unable to live his life.

 

Gambaran Kasus

David Reimer, lahir di Kanada pada 22 Agustus 1965. Ia adalah seorang anak laki-laki yang sehat dan normal. Ketika melakukan prosedur sirkumsisi (sunat) di usia 8 bulan, terjadi kesalahan prosedur yang mengakibatkan hampir sebagian penisnya hancur karena alat potong yang digunakan. Khawatir akan keselamatan dan kelangsungan hidup anaknya, orang tua David membawanya ke rumah sakit dan bertemu dengan seorang psikolog yang dianggap ahli tentang perkembangan seksual dari seseorang waktu itu, Dr. John Money.

Sang Psikolog mengeluarkan keputusan yang kontroversial namun dengan penjelasan singkat orang tua David menerima saran Dr. Money. Dr. Money menyarankan kepada David untuk mengubah jenis kelamin David menjadi perempuan, dengan memotong sisa penis David serta merekonstruksinya menjadi vagina kemudian menyuntiknya dengan hormon estrogen, kemudian mengganti namanya menjadi Brenda. Yang tidak diketahui orang tua David adalah, Dr. Money sedang menjadikan David sebagai subyek penelitiannya yang ingin membuktikan bahwa pola asuh yang menentukan identitas gender seseorang, bukan faktor alami.

Penelitian yang dilakukan tanpa persetujuan orang tua David dan David sendiri ini dianggap berhasil karena semua prosedur fisik berhasil dilakukan oleh dokter dan perilaku David atau Brenda dilaporkan menjadi lebih fenimin, meski sejak usia 22 bulan David harus buang air melewati sebuah lubang yang dibuat di daerah perutnya. Hal ini berlangsung sampai usia Brenda 2 tahun. Ia menolak mengenakan pakaian perempuan dan merobek semua pakaian yang dikenakannya, ia menolak untuk bermain boneka dan lebih memilih bermain dengan pistol mainan. Ia juga beberapa kali memprotes dan mempertanyakan kepada orang tua dan gurunya bahwa ia merasa sebagai laki-laki. Dr. Money yang sedang meneliti Brenda menolak permintaan orang tua Brenda untuk menjelaskan kepada Brenda tentang identitas gendernya yang sebenarnya. Di usia 14 tahun setelah berbagai pertimbangan dan saran dari psikolog lain dan pernyataan Brenda yang ingin mengakhiri hidupnya di usia 13 tahun, orang tua Brenda memberitahukan kenyataan tentang identitas Brenda yang sebenarnya. Brenda menerimanya dengan gembira dan kembali melalukan operasi untuk mengubah kembali jenis kelaminnya menjadi laki-laki, sementara Dr. Money tetap menolak untuk mengungkap identitas asli Brenda.

Meski akhirnya menikah dan mempunyai 3 anak tiri, Brenda yang sekarang kembali menjadi David mengalami depresi dan trauma yang sangat dalam terkait eksperimen yang dilakukan Dr. Money, kematian saudara kembarnya akibat overdosis, dan mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Di usia 20-an kembali ia mengeluarkan pernyataan ingin bunuh diri kepada ayahnya. Ia merasa ketakutan dan terus terbayang akan eksperimen Dr. Money yang memaksanya untuk berpose telanjang dan memperlihatkan gambar perempuan tanpa busana untuk memaksanya meneriman bahwa dirinya adalah perempuan, bahkan memaksanya melakukan apa yang disebut media sebagai “permainan seksual” dengan Dr. Money bersama dengan saudara kembarnya.

Tanggal 5 Mei 2004, pada usianya yang ke-30, David tidak sanggup lagi menanggung semua beban kehidupan dan identitas barunya. Dengan meninggalkan surat terakhir kepada istri dan psikolognya, David menembakkan sebuah senapan ke mulutnya di sebuah tempat parkir di dekat rumahnya dan mengakhiri semua kebimbangan, depresi, serta ketakutannya. Orang tua David serta merta menyalahkan metode Dr. Money yang kontroversial yang mengakibatkan kematian yang sangat menyedihkan anak laki-laki mereka dan membawa Dr. Money ke pengadilan dengan tuntutan praktik illegal yang menyebabkan kematian seseorang.

Dr. Money meski akhirnya divonis bebas oleh pengadilan karena dinyatakan tidak terbukti bersalah dan menyatakan menolak untuk terlibat dalam kejadian bunuh diri David, tetap menjadi seorang yang sangat kontroversial, ditambah lagi dengan pernyataan para ahli yang mengatakan bahwa sebenarnya Dr. Money telah gagal melakukan eksperimen di masa kanak-kanak dari David tetapi tetap memaksakan keinginannya untuk melanjutkan penelitiannya dan tidak bertanggung jawab atas keselamatan dan tekanan psikologis yang diterima oleh David. Ditambah lagi kenyataan bahwa Dr. Money dianggap telah menutup mata dan berbohong kepada orang tua dan publik tentang perkembangan kasus David terutama penyataan David tentang keinginanya untuk mengakhiri hidupnya.

Kajian Teoretis

A.   Resiliensi

Setiap manusia diperlengkapi oleh kemampuan untuk menghadapi permasalahan dan bangkit dari keterpurukan yang dihadapi. Kemampuan untuk bangkit lebih dikenal dengan nama resiliensi. Mangham, McGrath, Reid, & Stewart (dalam Wielia & Wirawan, 2000) mendefinisikan resiliensi sebagai kemampuan individu untuk mengelola dan mengatasi stress secara efektif serta dapat meningkatkan kemampuan individu dalam mengelola stress di kemudian hari. Seseorang yang resilien yakin bahwa ia harus berusaha untuk memperoleh masa depan yang baik (Wielia & Wirawan, 2000).

Fony, Waruwu, & Lianawati (2006) menyatakan bahwa individu yang mempunyai resiliensi yang tinggi akan mampu mengatasi kesulitan dan trauma yang dihadapi, individu ini akan mampu melihat kegagalan sebagai suatu kesempatan untuk menjadi lebih maju dan mampu menarik pelajaran dari kegagalannya itu. Lebih lanjut lagi Grotberg (dalam Fony, Waruwu, & Lianawati, 2006) mengatakan bahwa resiliensi sangat penting dalam membantu individu untuk mengatasi segala kesulitan yang muncul setiap hari.

Ciri-ciri individu yang resilien menurut Reivich & Shatte (dalam Lestari, 2007) adalah pengaturan emosi, kontrol terhadap impuls, optimisme, kemampuan menganalisis masalah, empati, efikasi diri (yakin akan keberhasilan diri sendiri), dan pencapaian atau kompetensi dalam mencapai sesuatu. Beberapa faktor yang turut mempengaruhi tingkat resiliensi seseorang menurut Grotberg (dalam Wielia & Wirawan, 2000) adalah sumber dukungan eskternal (I have), yaitu dukungan yang berasal dari luar diri individu, seperti keluarga, lingkungan sekitar, dan orang lain yang dihormati. Yang kedua adalah kemampuan individu sendiri (I am). Yaitu, kekuatan yang berasal dari diri sendiri, seperti perasaan, tingkah laku, dan kepercayaan diri sendiri.

Ketiga adalah faktor kemampuan sosial dan interpersonal (I can). Individu yang resilien dapat memiliki kemampuan sosial dan komunikasi yang baik, serta memiliki kemampuan memecahkan masalah yang baik. LaFramboise (dalam Lestari, 2007) menambahkan dua hal dalam faktor individu, yaitu gender yang mempengaruhi kemampuan individu menjadi resilien serta keterkaitan dengan budaya. Resiliensi dapat terjadi pada masa dewasa, dimana seseorang memiliki banyak kesempatan, sumber-sumber, dan perubahan-perubahan sosial (Parton dalam Sisca & Moningka, 2008). Lebih lanjut lagi Sisca dan Moninga (2008) menyatakan bahwa adaptasi pada dewasa muda dapat terjadi sebagai respon atas tanggung jawab dan tuntutan yang baru, kejadian-kejadian traumatis, serta transformasi kebudayaan yang besar.

B.   Kode Etik Psikologi

Kde etik dalam dunia psikologi sangat diperlukan sebagai panduan dalam proses psikoterapi dan konseling. Kode etik diperlukan agar seorang psikolog dapat merespon secara efektif setiap klien yang membutuhkan bantuan dan setiap klien yang meminta bantuan dapat dibangun, diperkuat, serta ditingkatkan kemampuannya dengan baik (Pope & Vasquez, 1998).

Pekerjaan sebagai terapis akan menentukan perbedaan apakah klien kehilangan harapan dan kemudian melakukan bunuh diri atau memilih untuk melanjutkan hidup, atau ketika seorang istri yang menerima kekerasan dapat mencari lingkungan yang lebih aman dalam situasi genting, dan ketika seorang remaja yang menderita anoreksia memutuskan bangkit atau meninggal karena kelaparan. Ketika banyak psikolog mengabaikan dan menganggap hal ini adalah suatu hal yang remeh, maka kode etik diperlukan untuk menyeragamkan persepsi serta membuat proses terapi menjadi lebih teratur dan professional.

 

Pembahasan Kasus dari Sudut Pandang Kode Etik

Kasus David Reimer sempat menghebohkan dunia psikologi, terutama dunia psikologi eksperimen di Amerika. Dilakukan banyak perubahan dalam roses eksperimen yang menggunakan manusia setelah kasus David Reimer. Meski ditemukan fakta-fakta ilmiah yang baru selama proses eksperimen berlangsung, terjadi juga banyak pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh psikolognya Dr. Money. Meski Dr. Money bebas dari tuntutan hukum dengan alasan David mengalami sindrom memori yang salah (False Memory Syndrome) beberapa pelanggaran kode etik dari awal dan selama pelaksanaan eksperimen, yang berakibat akhir yang tragis dari David Reimer.

Awal sesi konseling Dr. Money tidak memberikan penjelasan yang memadai dan menyeluruh kepada orang tua dari David. Ia hanya memberikan penjelasan singkat yang membawa orang tua David menyetujui proses eksperimen yang dilakukan Dr. Money. Padahal menurut Hustin, Movercek, Kaplan, dan Liss-Levinson (1999) sebelum proses terapi dilakukan, klien wajib diberitahu prosedur apa yang akan dilakukan, tujuan proses ini, serta dampak yang akan dialami klien selama proses terapi dilangsungkan. Tidak diberikannya inform consent kepada orang tua David menambah pelanggaran yang dilakukan oleh sang dokter selama proses terapi berlangsung, sehingga David tidak mempunyai pilihan lain dalam proses terapinya.

Inform consent sangat diperlukan oleh klien, karena melalui inform consent, klien diberikan pilihan apakah ia akan menerima dan melanjutkan proses terapi dengan segala konsekuensinya ataukah klien memilih untuk tidak melanjutkan proses terapi (Hustin, Movercek, Kaplan, dan Liss-Levinson, 1999). Klien pun harus dipastikan mengerti semua hal yang akan dilakukan selama eksperimen berlangsung, serta psikolog haru bersedia menjawab semua pertanyaan klien yang berhubungan dengan proses terapi, kecuali hal-hal yang bersifat rahasia dan berkaitan dengan kode etik (Pope & Vasquez, 1998).

Kekuatan yang dimiliki seorang psikolog untuk menangani seorang klien, dimanfaatkan oleh Dr. Money untuk merekayasa penelitian yang sedang dilakukannya untuk tujan pribadinya sendiri dan memanipulasi tujuan penelitiannya. Hal lain adalah Dr. Money terlalu cepat memutuskan apa yang harus dilakukan kepada klien tanpa memikirkan dampak yang akan dialami oleh kliennya. Dampak negatif dan trauma yang dialami oleh David sebagai dampak dari berbagai percobaan bahkan kekerasan secara seksual yang dialami oleh David. Hal ini dijelaskan melalui perpektif perkembangan oleh Sisca dan Moningka (2008) yang mengatakan bahwa kekerasan seksual yang dialami seseorang pada masa anak-anak berhubungan dengan stress dan kesulitan menjalin relasi intim di masa dewasa.

Dr. Money pun tidak mengindahkan pentingnya klarifikasi dalam terapi, yaitu agar pasien dan terapis dapat bekerjasama untuk memastikan lancarnya proses terapi (Pope & Vasquez, 1998). Dr. Money pun tidak melakukan pembinaan terhadap klien selama proses terapi berlangsung, meski dengan alasan keluarga klien tidak datang kembali, namun Dr. Money terlihat sama sekali tidak mencoba mendekati keluarga dan menjelaskan betapa pentingnya selalu mengontrol dan mengawasi keberadaan David setelah ia berganti jenis kelamin dan dampak sosial dan pribadi dari diri David sendiri, Dr. Money sudah mengabaikan faktor personal dan lingkungan dalam kasus ini.

Terakhir, tindakan pengabaian yang dilakukan oleh Dr. Money menghasilkan akhir yang sangat menyedihkan bagi David Reimer, yaitu tindakan bunuh diri. Kegagalan Dr. Money dalam mengantisipasi pemikiran David untuk melakukan bunuh diri, menyebabkan kejadian itu tidak dapat diketahui dan dicegah. Padahal, David dengan jelas sudah menyebutkan rencanya untuk bunuh diri paling tidak dua kali, kepada ayahnya dan kepada Dr. Money sendiri, serta keadaan David yang beberapa kali terlihat depresi karena merasa tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Menurut Pope dan Vasquez (1998) pernyataan untuk bunuh diri secara langsung merupakan salah satu indikasi yang jelas bahwa klien tersebut sudah merencanakan bunuh diri.

Berkaitan dengan faktor-faktor resiliensi,, Dr. Money tidak dapat membangun resiliensi dalam diri pasien, karena salah satu faktor yang membuat seseorang menjadi resilien adalah dukungan dari lingkungan yang ada di sekitar individu yang memiliki ikatan emosional dan berpengaruh secara signifikan terhadap perkembangan individu (I have). Pada kasus David, hal ini kurang diperhatikan oleh Dr. Money, apalagi setelah David kehilangan saudara kembarnya. Selain itu ketidakseimbangan gender yang dimiliki David menyebabkan kebingunan yang mengarah kepada depresi, mengingat gender adalah salah satu faktor yang menentukan apakah individu adalah seorang yang resilien atau tidak.

Pengaruh positif psikolog sangat diperlukan selama penanganan klien. Psikolog diharapkan dapat membangkitkan rasa percaya diri dan membantu klien bangkit dari masalah yang dihadapi sesuai dengan karakteristik kepribadian dari klien yang dihadapi psikolog.

Kesimpulan

Kasus di atas menggambarkan betapa pentingnya sikap seorang psikolog dalam menyikapi dampak dari tindakan terapi yang diberikan kepada seorang klien, mengingat klien adalah seorang manusia yang mempunyai banyak aspek dan nilai pribadi dalam kehidupannya yang harus dijaga dan dipertahankan.

Kegagalan seorang psikolog dalam mengantisipasi semua hal tersebut mengakibatkan dampak yang fatal baik secara individu maupun sosial, baik terhadap klien dan keluarganya maupun nama baik dan profesi seorang psikolog. Pentingnya kontrak selama terapi berlangsung pun sangat penting mengingat dampak tersebut. Dari sisi sosial, kasus ini mendapatkan reaksi yang cukup luas di Amerika. Betapa gender dan lingkungan adalah hal yang tidak dapat dipisahkan. Alam membentuk jenis kelamin manusia dan lingkungan yang membuat seorang manusia , laki-laki atau perempuan bertindak, berperilaku dan berkata-kata.

Usaha untuk mengubah dan memodifikasi keadaan ini, apalagi tidak disertai dengan pengetahuan dan peraturan yang ketat dapat berakibat fatal bagi seorang individu, dalam kasus ini berakibat fatal untuk klien. Terapis sebagai seorang professional wajib menjaga kesejahteraan (well-being) klien dalam kehidupannya, sehingga setelah dan selama proses terapi berlangsung klien dapat berfungsi secara normal dan menjalani kehidupan sosialnya dengan baik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 Colapinto, J. (2004). Gender gap: what where the real reasons behind David Reimer’s suicide?. Retrieved September, 15, 2011, from http://www.slate.com/id/2101678/

Fony, Waruwu, F. E., & Lianawati. (2006). Resiliensi dan prestasi akademik pada anak tuna rungu. Jurnal Provitae, 2(1), 34-40.

http://en.wikipedia.org/wiki/David_Reimer

http://psybird.wordpress.com/2008/05/30/unethical-ethics/

Hustin, R. T., Movercek, J., Kaplan, A. G. & Liss-Levinson, N. (1999). Rights of clients, responsibilities of therapist. In D. N. Bersoff (Ed.), Ethical Conflict in Psychology (2nd Eds.). Washington, DC: American Psychological Association.

Lestari, K. (2007). Hubungan antara bentuk-bentuk dukungan sosial dengan tingkat resiliensi penyintas gempa di desa Canan, kecamatan Wedi, kabupaten Klaten. Skripsi tidak diterbitkan, Universitas Diponegoro, Semarang.

Pope, K. S. & Vasquez, M. J. T. (1998). Ethics in psychotherapy and counseling: a practical guide (2nd eds.). Sansome Street, SF: Jossey-Bass Publisher.

Sisca, H. & Moningka, C. (2008). Resiliensi perempuan dewasa yang pernah mengalami kekerasan seksual di masa kanak-kanak. Jurnal Psikologi, 2(1), 61-69.

Wielia & Wirawan, H. E. (2000). Gambaran resiliency pada individu yang pernah hidup di jalanan. Sosial & Humaniora, 2(1), 69-97.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s